Gempa Cianjur beberapa waktu lalu menyisakan luka. Neneng Susanti (38) atau Eneng adalah satu di antaranya. Bahkan sampai saat ini Eneng harus tinggal di rumah kontrakan karena pembangunan rumah untuk korban gempa masih juga mangkrak.
Cobaan ini menjadi semakin terasa berat bagi warga desa Cugenang tersebut karena Eneng harus membersarkan kedua anaknya. Terlebih anak bungsunya, Gibran (10), mengalami cerebral palsy.
Sehari-hari Gibran hanya terbaring lemah di tempat tidur. Gibran tidak bisa mengucap satu kata pun. Ia juga jarang menangis, yang keluar dari mulutnya hanya sesekali erangan. Kondisi seperti ini sudah pasti membuat Gibran amat membutuhkan kehadiran sang Ibu.
Foto:berbuatbaik
|
Eneng menceritakan saat usia satu bulan, Gibran mengalami demam tinggi dan dokter memvonisnya memiliki masalah dengan otaknya. Gibran pun harus mendapatkan asupan dari susu dan makanan yang bertekstur lembut. Kemudian disuapi pelan-pelan agar makanan bisa masuk ke kerongkongan.
"Gibran pernah tes Alhamdulillah pendengarannya normal, tapi kalau untuk penglihatan Gibran itu kata dokter blind optical, jadi bagian kornea matanya itu normal, tapi otak yang menerjemahkan apa yang dia lihat itu tidak berfungsi, jadi Gibran tidak bisa melihat," ungkap Eneng.
Dia menyebut sebenarnya dokter telah mengatakan bahwa anak disabilitas yang sulit untuk kembali normal. Namun tak ada kata menyerah bagi Eneng untuk tetap merawat Gibran sepenuh hati.
"Saya mah untuk saat ini pasrah kondisinya Gibran seperti ini, saya udah pasrah kok Gibran ibaratnya nggak bisa jalan, Gibran nggak bisa bicara, Gibran gak bisa makan sendiri, Gibran bergantung hidupnya sama saya, pokoknya ini Gibran saya" ujar Eneng.
Foto:berbuatbaik
|
Eneng juga sampai saat ini masih terus berikhtiar untuk memberikan terapi pada tubuh Gibran. Kendati demikian, terkadang terbesit kekhawatiran akan masa depan Gibran dan tetehnya.
"Yang saya khawatirin sebenernya bukan Gibran tapi nasib tetehnya Gibran. Kalau seandainya dia nggak sukses gimana dia bisa membimbing Gibran," ujarnya dengan suara gemetar. "Saya berharap kakaknya sukses berpendidikan supaya nanti ada buat Gibran. Sekalipun Gibran kondisinya seperti ini, demi Allah saya nggak sedikitpun mikirin Gibran tuh sekalipun dibawa sama Allah. Saya selalu berharap panjang umur biarpun kondisi seperti ini, ini Gibran saya, ya Allah panjangkan umur Gibran," doa Eneng.
Sebagai ibu tunggal dan satu-satunya penopang keluarga, Neneng bangun sebelum mentari menyingsing, menyiapkan dagangan makanan ringan seperti odeng dan bakso ikan dengan penuh kesungguhan.
"Untungnya itu dari Rp 1.500 paling ngambil 500, saya ambil untung enggak banyak paling sekitar 10% atau 20% dari modal awal," ungkap Eneng lagi.
Tak sampai situ, selesai berjualan Eneng masih lanjut bekerja melayani jasa titip beli sayuran ke pasar. Dalam situasi seperti ini, Eneng pun tak bisa meninggalkan Gibran maka dia ke manapun pergi kerap menggendong Gibran.
Sahabat Baik, betapa jatuh bangunnya menjadi ibu seperti Eneng. Namun Eneng memilih mengabdikan hidupnya untuk buah hati tak peduli seberapa besar dia harus bekerja keras.
Maka dukungan #sahabatbaik adalah sinar harapan bagi Gibran dan Neneng. Bersama-sama, kita bisa memberikan mereka kehidupan yang lebih baik.
Saatnya berbuat baik! Caranya dengan mulai Donasi di berbuatbaik.id yang 100% tersalurkan ke penerima manfaat. Ayo berbuat baik mulai hari ini dan sekarang juga! Bersama-sama, kita bisa membuat perbedaan yang besar.
Gibran, anak penderita Cerebral Palsy, terus semangat untuk tetap sehat. Meskipun masih harus melakukan rawat jalan ke rumah sakit namun kini puji syukur kondisi kesehatannya telah stabil.
“Sekarang badannya udah kaku, jadi saya lebih susah ngerawatnya. Kaki aja sekarang udah bengkok banget, gak bisa pake sepatu. Sebelumnya masih bisa pake sepatu, sekarang udah gak bisa soalnya kakinya udah bengkok”, ucap Neneng Susanti, ibu dari Gibran di kediamannya di Cianjur.
Selain itu, Gibran juga masih tak bisa merespons ucapan dari orang lain, bahkan ibunya sendiri. Dokter spesialis mata mengatakan bahwa mata Gibran memang sudah tidak bisa melihat. Gibran juga membutuhkan tabung oksigen karena kondisi demam dan kekurangan oksigen bisa menyebabkan dirinya kejang.
Foto:berbuatbaik
|
Gibran pun harus mendapatkan asupan makanan yang lembut seperti bubur dan juga susu karena kondisinya yang tidak bisa menerima makanan bertekstur keras.
Donasi yang telah terkumpul sebanyak Rp 7.078.231 telah membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari Gibran seperti makanan, susu, tabung oksigen, obat-obatan, dan lainnya.
Foto:berbuatbaik
|
“Untuk sahabat baik, terima kasih atas donasinya untuk anak saya ya. Semoga sahabat baik dapat balasan yang berlipat ganda, dan semoga donasi yang saya terima untuk anak saya ini, saya pergunakan sebaik baiknya dan bermanfaat untuk anak saya. Terima kasih sahabat baik semuanya, salam sehat”, ucapnya haru.
Semangat Gibran untuk terus bertahan menginspirasi kita semua untuk terus berbagi kebaikan kepada sesama. #sahabatbaik kita bisa terus melakukan kebaikan untuk menciptakan semangat baru bagi mereka yang membutuhkan dengan berdonasi di berbuatbaik.id, donasi kalian 100% tersalurkan.